NEWS

Slider

Pendekar Tanjung Aur DiBekuk Tim Walet Polres Lahat

Dutasumsel.com.LAHAT, - Tim Walet  Polres Lahat kembali membekuk Pendekar dari Kikim Tanjung Aur yang berisial R karena sepak terjang bergelut sebagai pengedar Narkotika.

AKBP Ferry Harahap SH.Sik MSi Kapolres Lahat didampingi, Kompol  Budi  Santoso S.Sos Wakapolres, Boby Eltarik SH Kasat Narkoba, AKP Rio Artha Kasat Narkoba pagi ini bertempat diMapolres Lahat menggelar Press Confrence (17/9)

Menurut Ferry Harahap SIK.MSi kepada Awak Media mengatakan " Berdasarkan Informasi yang didapat, pendekar aliasJ ketika digeledah dibadan tersangka didapat 2,6 gram Narkotika jenis Sabu dan berdasarkan pengembangan pengeledaan  dirumahnya didapat dua butir Ekstasi di Desa Tanjung Aur Kikim  dan uang sejumlah 49 Juta.

Dan dikembangkan dirumah orang tuanya tersangka ditemukan  20 paket sabu 54,42 gram, Tim Walet juga  mengamakan kakak pertamanya berinisial IR. Untuk sementara kita kenakan pasal 114 ayat 2 atau pasal 112 no 35 tahun 2009 dan  pengedaran Narkoba paling lama kurungan penjara paling lama  20 Tahun penjara" ungkap Kapolres.

Pewarta : Novita/ Idham
Redaksi.www.dutasumsel.com

TUAH BACK TO PMPKn

Artikel.dutasumsel.com.Tulisan ini sengaja membahas tentang wacana penyempurnaan substansi kurikulum atau mata pelajaran PPKn dengan tujuan membumikan kembali pendidikan moral dan nilai Pancasila di bumi pertiwi. Berdasarkan informasi yang dirilis Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui lamanwww.kemdikbud.go.id dalam Siaran Pers Nomor: 294/Sipres/A5.3/IX/2019 tanggal 14 September 2019 yang lalu tentang Simposium Nasional Penanaman Nilai Pancasila oleh Kemdikbud di Kota Malang Provinsi Jawa Timur telah menghasilkan empat rumusan rekomendasi untuk memperkuat kembali mata pelajaran PPKn di persekolahan. Adapun empat rekomendasi yang telah dihasilkan, yakni: (1) Intensitas penanaman dan pemantapan nilai Pancasila sebagai wahana pembangunan watak bangsa perlu dilakukan di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan; (2) Implementasi penanaman dan pemantapan nilai Pancasila dapat dilakukan melalui peningkatan pemahaman, penghayatan, penciptaan suasana, pembiasaan, apresiasi dan keteladanan; (3) Pemantapan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dilakukan melalui penguatan pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek nilai, sikap, dan perilaku; serta (4) Pendidikan dan pelatihan guru lebih menekankan pada pengembangan kiat-kiat dan praktik baik internalisasi nilai Pancasila pada semua mata pelajaran.
Sebagaimana disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bapak Muhadjir Effendy saat menutup Simposium Nasional secara resmi di Kota Malang Provinsi Jawa Timur, pada hari Sabtu tanggal 14 September 2019 bahwa “Penanaman nilai Pancasila sebagai wahana pembangunan watak atau karakter bangsa adalah penting. Oleh karena itu, seluruh satuan pendidikan mempunyai tanggung jawab moral dalam penanaman nilai Pancasila sedini mungkin”. Masih menurut Mendikbud, Mata pelajaran PPKn belum memiliki dampak besar terhadap pembentukan karakter siswa. Hal ini disebabkan belum adanya implementasi penanaman nilai-nilai Pancasila secara konkret di sekolah, melainkan hanya sebatas pengetahuan semata. Beliau berpendapat “Oleh karena itu, dibutuhkan mata pelajaran yang memiliki posisi sebagai pemandu terhadap proses kegiatan belajar mengajar yang ada di satuan pendidikan, termasuk pembelajaran yang ada di masyarakat maupun keluarga”. Strategi pembelajaran Pancasila tersebut akan diarahkan untuk lebih banyak memberikan contoh mengenai penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dari informasi yang disampaikan Mendikbud pada acara tersebut bahwa “Kemdikbud telah melatih sebanyak 1.028 guru pendidikan dasar dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Saya harap guru-guru itu bisa, metode pengajarannya dari sebelumnya berorientasi pada pengetahuan pada jenjang pendidikan dasar menjadi penerapan nilai Pancasila,” ujar Mendikbud. Lebih lanjut Mendikbud mengatakan bahwa akan melakukan pengkajian mendalam mengenai kemungkinan terjadinya pemisahan mata pelajaran Pancasila dengan Kewarganegaraan. “Judul mata pelajaran kita sekarang itu PPKn dan ada di dalam Peraturan Pemerintah. Setelah kita evaluasi ketika materi Pancasila itu dijadikan satu dengan Kewarganegaraan, maka kemudian pembobotan Pancasila itu lebih kepada pengetahuan. Padahal maksud dari mata pelajaran atau tema Pancasila bukan pengetahuan melainkan penanaman nilai. Ini sedang kita kaji lebih dalam lagi”, terang Mendikbud. Pada kesempatan ini, Mendikbud juga menitipkan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan yang mengikuti kegiatan tersebut untuk memperhatikan penggunaan alat komunikasi untuk mengakses dunia maya. “Guru juga harus berperan sebagai penjaga gawang, sebagai penyaring informasi mana yang harus dia pakai dan mana yang harus dijauhi. Jadi intinya di era digital ini, guru dituntut untuk terampil menggunakan teknologi informasi sebagai wahana pembelajaran, tetapi juga harus pandai betul memilih dan memilah konten-konten yang ada di dalam berbagai macam sumber informasi terutama yang berasal dari dunia maya”, demikian pesan Mendikbud.
Masih dalam kegiatan yang sama, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Bapak Supriano menambahkan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbud sudah menyiapkan 1.200 guru yang sudah diberikan Training of Trainers (ToT) yang diintegrasikan dengan kebijakan Kemendikbud di mana pelatihan ini akan berbasis zona. “Nanti ini akan dimasukkan ke dalam penguatan kompetensi pembelajaran di semua bidang termasuk di sana ada Pancasila. Ke depannya akan kita atur bahwa semua mata pelajaran harus ada muatan Pancasila. Mulai dari yang sederhana saja dulu,misalnya gotong royong. Jadi langsung dipraktikkan bukan hanya pengetahuan”, jelasnya. Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Malang, Bapak Ibrahim Bafadal secara langsung menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan Kemdikbud ini. Hal tersebut penting dilakukan, karena menurutnya pada hakikat pendidikan adalah untuk menumbuhkembangkan watak, intelektualitas dan jasmani sehingga tidak ada pendidikan tanpa pembentukan watak di dalamnya. Menurutnya “saat ini terjadi pertengkaran antarsuku, perundungan antarsiswa, geng motor pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu dengan karakter anak-anak kita. Padahal karakter anak kita akan menentukan watak bangsa yang akan datang dan watak bangsa ini adalah kehidupan. Kalau anak-anak muda kita ini wataknya baik, secara proyektif maka masa depan bangsa kita akan baik. Tetap sebaliknya, apabila karakter anak-anak kita tidak bagus maka ke depan watak bangsa kita juga tidak baik sehingga ada kata-kata karakter adalah sebuah kehidupan”, pungkas Ibrahim. Kegiatan tersebut dihadiri Plt. Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Bapak, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, jajaran pejabat Kemdikbud, guru-guru PPKn peserta simposium.
Bongkar Pasang Kurikulum PPKn
Perkembangan mata pelajaran PPKn sejak diberlakukannya Kurikulum 1946 sampai denganKurikulum 2013 saat ini telah mengalami pasang surut dalam hal penekanan Pendidikan Moral dan Nilai Pancasila. Dalam Winataputra (2006) disebutkan bahwa “perkembangan dari awal mata pelajaran ini diberlakukan dalam pembelajaran wajib di persekolahan, yakni pada tahun 1946 mapel dikenal dengan nama Pengetahuan Umum (Kewargaan Negara dan IPS), lalu tahun 1957 berubah nama menjadi Kewarganegaraan, di tahun 1961 lebih dikenal dengan nama Civic dengan ciri khusus orde lama dan tahun 1966 dengan nama sama Civickondisi orde baru. Pada tahun 1970 mapel bernama Kewarganegaraan, lalu di tahun 1975 dikenal dengan Pendidikan Moral Pancasila berdasarkan TAP MPR No.4/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4). Barulah tahun 1984 mapel ini dinamakan Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dengan substansi Pancasila sebagai isi pokoknya. Berikutnya diberlakukannya Kurikulum 1994 dengan Suplemen GBPP 1999 mapel lebih dikenal dengan nama Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Kemudian pada tahun 2004 saat Kurikulum Berbasis Kompetensi diberlakukan nama mata pelajaran ini pun berganti menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Saat KBK disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006 mata pelajaran ini ikut disempurnakan dengan nama yang sama Pendidikan Kewarganegaraan namun ditambahkan Paradigma Baru berdasarkan KTSP). Sepuluh tahun kemudian tepatnya di tahun 2013 mata pelajaran ini kembali ke nama sebelumnya, yakni PPKn sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan ciri Saintifik. Sempat diisukan akan berganti menjadi Kurikulum Nasional di tahun 2016, namun sampai dengan saat ini nama mata pelajaran belum berganti dalam kurikulum masih dinamakan PPKn berbasis karakter”. Sedemikian panjang sejarah perjalanan mapel ini dari awal kemerdekaan sampai dengan sekarang. Bahkan bisa dikatakan substansi dan nama mapel PPKn selalu identik dengan masa pemerintahan yang sedang berkuasa. Akan tetapi tujuan akhir mapel ini masih sama untuk mewujudkan peserta didik menjadi warga negara yang baik dan cerdas “good and smart citizenship” dengan menguasai kompetensi utama civic knowledgecivic skillcivic responsibility, dan civic dispositions. Secara praktis apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun PMPKn diberlakukan kembali sebagai pendidik kami selalu siap asalkan membawa perubahan watak bangsa dan kebaikan untuk Indonesia tercinta.
Pengarusutamaan Moral dan Nilai Pancasila Melalui PMPKn
Hasil penelitian dipaparkan dalam Simposium diperoleh data perilaku kekerasan terhadap pelajar, yaitu siswa mengalami kekerasan di sekolah (84%), siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah (75%), siswa laki-laki menyebutkan guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan (45%), siswa perempuan  menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan (22%), dan siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman (40%). Hal tersebut mengindikasikan terjadinya degradasi moral bangsa.
Menuruthttp://kbbi.web.id/karakter bahwa“karakter atau watak adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, ahlak, budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karakter terbentuk sebagai hasil dari olah hati, olah pikir, olah rasa/karsa, dan olah raga. Karakter menjadi  faktor terpenting dalam keberhassilan hidup seseorang. Dari hasil penelitian di Harvard University menyimpulkan “kesuksesan seseorang itu disumbang 20% oleh hard skill  berupa pengetahuan dan kemampuan teknis, sedangkan 80% adalah soft skillberupa kepribadian, watak, tabiat, ahlak, sikap, perilaku” (Ibrahim Akbar dalam Atok, 2019). Pada hakekatnya pendidikan itu adalah untuk membentuk karakter. Tujuan pendidikan nasional kita sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Pasal 3 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak (Ki Hajar Dewantara). Karakter tidak hanya melakukan transfer of valuetetapi  harus menanamkan kebiasaan yang baik sampai menjadi karakter individu yang akan turut membentuk identitas pribadiNilai Karakter tidak diajarkan tapi dikembangkan. Dengan kata lain value is neither cought nor taught, it is learned. Membangun karakter membutuhkan proses yang panjang dan tidak mengenal kata akhir atau never ending process.Membanggun karakter ibarat melukis di atas batu bukan melukis di atas air.
Menanamkan pendidikan moral dan nilai Pancasila adalah sebuah upaya membangun karakter bangsa Indonesia. Sebagaimana menanam sesuatu, maka langkah pertama adalah memilih benih yang baik untuk ditanam. Nilai-nilai utama Pancasila yang mau ditanamkan kepada siswa haruslah dielaborasi terlebih dahulu untuk kemudian dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Nilai-nilai Pancasila apa saja yang mau ditanamkan, semisal beragama secara beradab, menegakkan HAM pada konteks lokal, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, bedemokrasi secara hikmat dan bijaksana, menjunjung tinggi keadilan dengan tetap bertumpu pada kesejahteraan bersama, dan sebagainya. Ibarat menanam sesuatu, harus dilakukan pembersihan terhadap rumput-rumput liar yang mengganggu dan hama yang mengancam.
Beberapa kesalah fahaman terhadap Pancasila yang perlu dihindari juga perlu dijadikan muatan materi. Cukup banyak kesalahfahaman terhadap Pancasila yang perlu disamakan persepsi sebelum Pancasila itu ditanamkan kepada siswa. Dengan demikian yang tumbuh dan berbuah betul-betul pohon Pancasila yang sebenarnya. Disamping pembersihan terhadap rumput dan hama, perlu juga dilakukan pemupukan melalui pendekatan dam pembelajaran yang tepat, pembelajaran yang dapat mengajak siswa menggali dan kemudian menanam kembali “biji” Pancasila itu dalam sanubari. Pancasila adalah kepribadian bangsa yang nilai-nilainya sejatinya telah melekat dan menyatu secara instrinsik dalam pribadi-pribadi dan menjadi karakter dari setiap warga bangsa. Sebagai kepribadian, nilai-nilai Pancasila akan selalu teraktualisasikan secara otomatis dalam kehidupan nyata sehari-hari sehingga tahu atau tidak tahu tentang Pancasila mereka sejatinya telah bersikap dan berperilaku Pancasilais, tentu dengan kadar yang tidak mesti sama. Meski demkian, upaya untuk lebih menanamkan nilai
Pancasila sebagai karakter dan kepribadian bangsa Indonesia harus terus dilakukan. Rendahnya pemahaman terhadap Pancasila di kalangan siswa perlu mendapatkan penanganan serius. Sebab meskipun telah  melekat dalam kepribadian, nilai-nilai karakter bangsa yang telah diformulasikan dalam Pancasila perlu dikalukan reinternalisasi dan reaktulasisasi secara terus menerus agar terus menjadi energi kehidupan yang larut dalam keyakinan, watak, dan kepribadian bangsa. Penanaman nilai Pancasila yang kuat pada kalangan siswa harus dapat menghindari terjadinya “salah paham” terhadap Pancasila. Kesalahpahaman terhadap Pancasila bisa berakibat kesalahan aktualisasi, bahkan berakibat resistensi atau penolakan.Upaya memperkuat penanaman nilai Pancasila haruslah diarahkan untuk menghilangkan berbagai kesalahpahaman di atas. Adanya pemahaman yang benar terhadap Pancasila akan memperkuat komitmen generasi muda terhadap Pancasila. Jika kesalahpahaman terhadap Pancasila masih menghantui generasi muda bisa jadi akan berujung melunturnya komitmen, atau bahkan resistensi dan penolakan secara masif di kalangan generasi muda terhadap Pancasila. Jalur pendidikan adalah jalur utama yang strategis untuk memperkuat penanaman nilai Pancasila kepada para siswa. Karena itu Pendidikan Pancasila menjadi matapelajaran wajib bagi seluruh jenjang pendidikan mulai pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Keberadaan Pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional memang mengalami dinamika dengan nama dan muatan materi yang dinamis dari kurikulum ke kurikulum sesuai dengan perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat dan negara. Masih terdapat kesan yang  kuat bahwa nilai dan moral Pancasila sudah tidak lagi diajarkan di sekolah.
Upaya penanaman nilai-nilai Pancasila melalui jalur pendidikan sampai dengan sebelum lahirnya Kurikulum 2013 memang lebih cenderung menggunakan pendekatan kognitif-normatif sehingga pemahaman siswa/mahasiswa tentang nilai-nilai Pancasila lebih bersifat verbal. Dalam Kurikulum 2013 yang kemudian disempurnakan tahun 2016 Kurikulum PPKn lebih menekankan pada sikap-sikap personal-individual, moral dan perilaku sosial sebagai disposisi dan nilai-nilai bersama dari warga negara dalam kehidupan bersama yang menghargai hak-hak asasi manusia dan demokrasi. Hal ini bisa dilihat dari rumusan  kompetensi dasar yang menjadi dasar pengembangan materinya. Dari segi pendekatan dan metode pembelajaran, dengan digunakannya  pendekatan  ilmiah(scientific approach) mendorong siswa untuk berpikir induktif sehingga aktif serta kritis dalam melakukan analisis. Apalagi dalam pembelajaran PPKn tidak lagi berangkat dari konsep atau norma melainkan berangkat dari fakta yang diperoleh melalui hasil pengamatan.
Penanaman nilai-nilai Pancasila menuntut adanya pendekatan dengan melakukan penggalian dan elaborasi terhadap praktek-praktek kehidupan dalam masyarakat yang merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Pancasila. Sehingga Pancasila tidak lagi diajarkan sebagai konsep dan norma, melainkan sebagai perilaku nyata sehari-hari. Pancasila in action. Dalam hal ini guru dituntut untuk membimbing para siswa melakukan penggalian ulang nilai-nilai Pancasila yang hidup dan berkembang dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari. Hasil penggalian ulang itu selanjutnya diinfuskan kembali sehingga menjadi energi positif yang larut dan mengalir dalam darah kehidupan siswa sehari-hari. Penggalian ulang itu tentu dilakukan secara konstekstual terhadap perilaku-perilaku positif yang betul-betul menggambarkan aktulaisasi nilai-nilai Pancasila. Pancasila in action dengan pendekatan kontekstual positif tersebut akan mampu memperkuat pemahaman Pancasila bagi siswa. Model penanaman nilai-nilai Pancasila demikian itu amat tepat digunakan dalam berbagai program pendidikan dan latihan bertujuan untuk memperkuat pemahaman Pancasila di luar persekolahan, seperti Proyek Kewarganegaraan, Jambore Kebangsaan, dan sebagainya.
Upaya untuk memperkuat pemehaman Pancasila generasi muda tidak cukup hanya dilakukan melalui jalur pendidikan. Upaya itu harus dilakukan secara simultan melalui berbagai jalur. Upaya memperkuat pemahaman Pancasila generasi muda harus menjadi program dari semua instansi atau lembaga pemerintah yang terkait. Sebab de-Pancasilaisasi itu lebih banyak terjadi diluar dunia pendidikan. Untuk itu perlu ada kebijakan dengan regulasi yang kuat dan mengikat yang mendukung diadakannya program “penguatan pemahaman Pancasila dan karakter kebangsaan” bagi generasi muda pada umumnya. Upaya pembangunan karakter bangsa melalui  penanaman nilai Pancasila perlu dilakukan secara simultan melalui berbagai jalur selain jalur pendidikan, sebab fenomena sosial yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila itu sebagian besar terjadi di luar lingkungan sekolah. Jika di luar sekolah tidak dilakukan pembenahan secara serius, maka ibarat menebar benih yang unggul di ladang yang tandus, meskipun disertai pupuk yang baik dan obat hama yang mujarab tentu tidak banyak yang bisa diharapkan. Pengarusutamaan pendidikan moral dan nilai Pancasila lintas generasi melalui wacana pemberlakuan mapel baru PMPKn dengan memisahkan substansi Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan ini diharapkan dapat membongkar mental block dan membangun watak generasi penerus bangsa Indonesia lebih baik.

Penulis Artikel Husnil Kirom, M.Pd
Guru SMP Negeri 1 Indralaya Utara
Redaksi.www.dutasumsel.com

Mengantisipasi terjadinya kemacetan dan juga minimalisir terjadi laka lantas yang fatal , Jajaran Sat Lantas Menggelar Strong Poin


Dutasumsel.com.BANYUASIN, -- Polres Banyuasin hari Senin 16 September 2019 sekira pukul 06.30 Wib melalui Jajaran Sat Lantas Polres Banyuasin Yang dipimpin langsung oleh KBO Sat Lantas Polres Banyuasin Ipda Damidjan, SH melaksanakan penggelaran strong poin di simpang dan area yang dianggap rawan macet maupun laka lantas pada jalur lintas timur Banyusin.

Adapun titik titik yang dianggap rawan macet dan laka lantas , kemudian di lakukan strong poin oleh personil yaitu
Depan gerbang Batas kota KM. 12,SimpnagY Sukajadi,SPBU Sukajadi, Simpang Pasir Putih,Simpang Semuntul dan Simpang sungai Rengit

Kegiatan strong poin ini dilaksanakan secara rutin oleh jajaran Personil Polres Banyuasin baik pagi hari maupun sore hari sebagai salah satu tugas Polri sebagai pelayan masyarakat dan kegiatan yang dilakukan ini juga bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan dan juga minimalisir terjadi laka lantas yang fatal
Selama kegiatan penggelaran Strong Poin berlangsung, Sitkamseltibcar Lantas di wilkum Polres Banyuasin dalam keadaan ramai, lancar dan kondusif.

Pewarta : Alam
Redaksi.www.dutasumsel.com

Kecelakaan Maut di Tol Kapal Betung 1 Meninggal Dunia, Padahal Belum Diresmikan

Dutasumsel.com.Kayu Agung, - Telah Terjadi kecelakaan Maut didjalan Tol Kapal Betung sekira pukul 12.00 siang di jalan tol Palembang- Lampung tepatnya di Kilometer 325 yang berlokasi di Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Padahal sampai saat ini tol tersebut belum diresmikan.,sudah terjadi beberapa kali kejadian kecelakaan yang mengakibatkan adanya korban jiwa sebelum kejadian ini.

Kanit laka Polres OKI mengatakan kecelakaan melibatkan 2 mobil yang sedang melaju kencang di jalan tol KM 325.

"Kendaraan Kijang innova Nopol Profit (BG 1212 XO) datang dari arah lampung menuju arah Palembang setiba di TKP km 325 tol palembang Lampung. Saat itu, jalur tol ditutup dan berpindah jalur ke sebelah kiri secara bersamaan dari arah berlawanan datang Kendaraan Toyota Avanza BG 1829 AF sehingga terjadi laka lantas," ucapnya saat dikonfirmasi perihal kecelakaan tersebut, Senin (16/9/2019).

Dalam kecelakaan tersebut terdapat korban jiwa yaitu dari kedua pengendara mobil tersebut.

"Mengakibatkan korban luka dan satu orang meninggal dunia di Tempat Kejadian Perkara," jelasnya.

Pewarta: Tim
Redaksi.www.dutasumsel.com

Bidik Empat Kecamatan Jadi Kawasan Industri Hijau

Dutasumsel.com.MUBA, - Industri minyak dan gas (migas) serta perkebunan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) diyakini Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin akan memberikan feedback positif untuk kepentingan seluruh warga masyarakat Muba.

Bupati Muba yang juga Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) Indonesia, Dodi Reza menargetkan industri migas di Muba nantinya akan dikonsep dengan pembangunan Pusat  Unggulan Komoditi Berkelanjutan.

"Ada empat Kecamatan nantinya yang dibidik akan menjadi Pusat  Unggulan Komoditi Berkelanjutan dengan konsep Kawasan Industri Hijau Terpadu," ungkap Bupati Muba Dodi Reza di sela Rapat Pembangunan Pusat  Unggulan Komoditi Berkelanjutan, Senin (16/9/2019).

Dikatakan, adapun empat Kecamatan yang dibidik untuk menjadi Kawasan Industri Hijau Terpadu yakni diantaranya Bayung Lencir, Lalan, Tungkal Jaya, dan Sungai Lilin.

"Upaya Pembangunan Pusat  Unggulan Komoditi Berkelanjutan Empat Kecamatan ini pula yang nantinya sebagai upaya menekan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutlah)," bebernya.

Selain itu, lanjut Dodi upaya pembentukan Kawasan Industri Hijau Terpadu sebagai salah satu langkah konkrit menekan angka kemiskinan.

"Kita akan kejar supaya realisasi Kawasan Industri Hijau Terpadu di Muba ini segera terealisasi," jelasnya.

Dodi juga akan  mendukung rencana festival LanMerLinDang (Lalan Merang Sungai Lilin dangku) pada november 2019 dalam upaya Kemitraan pada kegiatan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) ataupun CSR perusahan untuk antisipasi cegah kathultlah, pemberdayaan masyarakat dan sekolah lapangan untuk penggerak  pembangunan pedesaan dan memvisualisasikan jejak era pra sriwijaya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat LTKL Gita Syahrani menuturkan ini akan menjadi program pertama atau pilot project di Indonesia.

"Konsep ini sangat pas di implementasikan di Muba, selain memang Muba memang kawasan industri migas dan perkebunan. diperkuat pula dengan komitmen pak Bupati Muba Dodi Reza dalam mewujudkan pembangunan hijau berkelanjutan," terangnya.

Staf Khusus Bupati Muba Bidang KALDPH, Dr Najib Asmani menyebutkan penunjukan untuk implementasi Pusat Unggulan Komoditi Berkelanjutan dengan konsep Kawasan Industri Hijau Terpadu di empat Kecamatan tersebut diperkuat dengan indikator masing-masing.

"Selain memang empat Kecamatan tersebut memang merupakan lokasi industri migas dan perkebunan, di empat Kecamatan tersebut juga mempunyai keunggulan masing-masing," tuturnya.

Najib menambahkan, selain memberikan kontribusi positif untuk warga Muba, implementasi Pusat Unggulan Komoditi Berkelanjutan dengan konsep Kawasan Industri Hijau Terpadu di Muba ini akan menjadi percontohan di Indonesia.

"Komitmen pak Dodi ini tentu akan kita support dengan maksimal karena banyak feedback positif nanti yang akan dirasakan," pungkasnya.

Pada Rapat Pembangunan Pusat  Unggulan Komoditi Berkelanjutan tersebut turut dihadiri beberapa pegiat lingkungan diantaranya LTKL, IDH, Mogabay dan ZSL.

Pewarta: Riyansya
Redaksi.www.dutasumsel.com

Bupati Ogan Ilir Tinjau Langsung Karhutla Di Desa Bakung

Dutasumsel.com.INDRALAYA,-- Bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir (OI) mengatasi bencana Kebakaran Hutan dan Lahat (Karhutla) diwilayah Kabupaten Ogan Ilir,  Bupati Ogan Ilir  H.M. Ilyas Panji Alam,  turun langsung kelapangan.

Bupati menegaskan, dalam kunjungan lapangan lahan yang terjadi kebakaran, di Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara , Senin ( 14/09/19) ,  Pemerintah Ogan Ilir  berupaya semaksimal mungkin dalam mengatasi bencana kebaran lahan

Kebakaran lahan merupakan bencana yang serius untuk ditanggulangi, untuk itu kami berupaya semaksimal mungkin mengatasinya, berbagai persiapan sudah kita lakukan, berkoordinasi dengan berbagai elemen, seperti , BNPB , TNI ,POLRI , Damkar, Camat, Kepala Desa , Lurah,  sebagai Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan,  Saya dan rombongan mengecek langsung kelapangan sejauh mana kesiapan satgas yang telah dibentuk tersebut,  setelah Saya cek ,Alhamdullah semuanya siap,  dari sarana dan prasarananya, Saya melihat ada Hellicopter juga, ada mobil Damkar, dan perlengkapan sarana pendukung lainnya "  Terangnya

Selain itu Bupati Juga menghimbau, Kepada masyarakat, jangan membuka lahan dengan cara membakar,  apa bila kedapatan yang melanggar akan disanksi tegas,  sesuai aturan yang berlaku.

Pembakaran lahan dan Hutan, mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan,  dapat terjadi kabut asap, dan lain sebagainya.

Pewarta: Tim

Satlantas Polres Lahat Barsama Jasa Raharja Lahat Berikan Sosialisasi Ke SMA Negri 4 Lahat

Dutasumsel.com.LAHAT, -- Guna menyadarkan bahaya berkendaraan tanpa helm ketika di jalan raya, Polisi Lalu Lintas Polres Lahat bergandeng tangan dengan pihak Jasa Raharja cabang Lahat memberikan wejangan sosialisasi ke SMAN 4 Unggulan Lahat.
Usai upacara bendera hari Senin 16/9 Sosialisasi Keselamatan Lalu Lintas dan Asuransi keselamatan jiwa yang dipimpin langsung Kepala jasa raharga cabang Lahat Agung Abimanyu dan dari Polres Lahat dipimpin Aipda Saikudin.
Antusiasme pelajar SMAN 4 Unggulan Lahat mendengarkan pengarahan tersebut, hal ini terbukti ketika Polantas dan Jasa Raharja memberikan pertanyaan, bila bisa menjawab siswa   mendapatkan door prize berupa Helm, selain itu juga SMAN 4 Unggulan menerima Plangkat.

Baslini MPd selaku Kepala merespon positif kegiatan ini, menurut beliau dengan adanya Sosialisasi keselamatan Lalu Lintas di jalan raya menyadarkan kepada siswa yang sering ngebut dijalan raya apa lagi tidak memakai helm sangat fatal" tandas Kepsek.

Pewarta: Novita
Redaksi.www.dutasumsel.com

MENGENAL SOSOK IRJEN FIRLI, PIMPINAN BARU PERIODE 2019-2023 YG DITAKUTI KPK

Dutasumsel.com.JAKARTA, -- Tebakan saya tidak meleset, benar saja Irjen Firli yang dijadikan ketua KPK periode 2019-2023. Sosok Irjen Firli mendapat penolakan dari internal KPK, karena mereka akan merasa terganggu kepentinganya jika sampai Irjen Firli yang menjadi ketua KPK, khususnya kelompok Polisi Taliban yang dikomandoi oleh Novel Baswedan. Anies semoga saja dengan pimpinan KPK baru akan bisa diproses kasusnya..!!!

Sepertinya akan ada babak baru yang menegangkan di KPK. Kita dikejutkan dengan pengangkatan ketua KPK yang baru, Irjen Firli. Namanya begitu menggemparkan dan menuai kontroversi karena sebelumnya ada penolakan dari 500 pegawai KPK. Selain itu Irjen Firli akan merombak habis sistem di KPK yang selama ini hanya mengandalkan OTT dalam mengungkap korupsi.

Komisi III DPR memilih Firli Bahuri sebagai Ketua KPK. Hal ini telah disepakati dalam musyawarah Komisi III.

*"Seluruh perwakilan fraksi-fraksi menyepakati untuk menjabat pimpinan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai Ketua adalah Saudara Firli Bahuri,"* kata pimpinan rapat Komisi III Azis Syamsudin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Sementara itu, wakil ketua diisi empat pimpinan KPK lainnya. Yaitu Lili Pintauli, Nawawi, Nurul Ghufron, dan Alexander Marwata.

Calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Irjen Pol Firli Bahuri menyinggung soal operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan lembaga antirasuah ini. Dia mengaku prihatin karena banyak orang yang ditangkap.

Mantan deputi Penindakan KPK ini menilai, banyaknya operasi senyap yang dilakukan KPK sebagai pertanda jika ada yang salah dalam sistem di lembaga antirasuah dalam menangani tindak pidana korupsi.

Kapolda Sumatra Selatan (Sumsel) ini mengaku telah menyiapkan beberapa program andalan jika terpilih menjadi pimpinan KPK. Program itu adalah pembangunan sumber daya manusia KPK, pembangunan sistem mitigasi, penguatan pemulihan aset negara dan penguatan kerja sama antarlembaga negara.

"Karena sesungguhnya, tujuan penegakan hukum terhadap pemberantasan korupsi tidak hanya menghukum seseorang, tidak hanya memasukkan seseorang dalam penjara. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengurangi kerugian negara," tutur Firli.

Sedang penolakan Irjen Firli oleh pegawai KPK karena masalah kode etik, yakni menemui TGB saat statusnya menjadi saksi. Tapi, justru gencarnya penolakan KPK sendiri menjadi tanda tanya bagi publik apa yang tengah terjadi di KPK. Haruskah karena suatu kesalahan lantas membuat seseorang dihadang dari pucuk pimpinan. Atau ada motif lain dibalik penolakan KPK. Apalagi pernyataan keras Irjen Firli yang mengatakan sistem OTT andalan KPK masih lemah dalam menindak korupsi.

Menyoal revisi UU KPK yang dianggap sebagai pelemahan KPK, Firli enggan menanggapi secara langsung, tetapi revisi UU merupakan hak pemerintah dan legislatif.

Firli juga enggan berkomentar terhadap sikap pimpinan KPK sekarang yang menilai revisi UU itu akan melemahkan KPK.

Demikian pula soal keberadaan Dewan Pengawas KPK, Firli hanya menyatakan sejauh untuk memperkuat KPK tidak menjadi persoalan.

Melihat idealisme Irjen Firli yang berlawanan dengan kebanyakan orang KPK, sepertinya akan ada babak baru di KPK. Setelah jatuhnya Antasari, jujur KPK seperti kehilangan taring dan hanya mengandalkan OTT. Padahal saat itu KPK memiliki independesi kuat yang tak ada dewan pengawas. Jadi, ada tidaknya pengawas KPK sebenarnya tak perlu ditanggapi serius oleh KPK, mengingat gebrakan KPK yang dianggap stagnan dan kelas receh. Semoga dengan adanya sosok pemimpin baru ditubuh KPK dan revisi RUU KPK yang menguatkan, kedepan bisa menjadikan KPK lebih baik lagi.

Pewarta : H.M Afriyadi.Lc
Redaksi.www.dutasumsel.com

Ketua Dewan Adat Raja-Raja Nusantara Dan Komisioner Kompolnas Hadiri Munas ke 1 Forum Pimpinan Redaksi Nasional (FPRN) di TMII Jakarta

Dutasumsel.com.JAKARTA, – Agenda Musyawarah Nasional (Munas) 1 Forum Pimpinan Redaksi Nasional (FPRN) yang dipusatkan di Anjungan Sumatera Barat (Sumbar), Taman Mini Indonesia Indah (TMMI), Jakarta Timur, sukses digelar, Minggu (15/09/2019).
Munas tersebut turut dihadiri Ketua Dewan Adat Raja-Raja Nusantara, YPM Prof DR H.E.Irwannul Latubual, MM,.MH,.Ph.D, Komisioner Kompolnas, Dede Farhan Aulawi.

Berdasarkan hasil Munas, lima pemimpin redaksi dari berbagai daerah terpilih sebagai ketua Pimpinan Pusat (PP) FPRN. Diantaranya Bayu Nugroho, Andi Muh. Safriansyah MS, Polman Manalu, Dedy HB dan Hamdani.

Ketua Dewan Adat Raja-Raja Nusantara, YPM Prof DR H.E. Irwannul Latubual, MM,.MH,.Ph.D, menyambut baik dan mengapresiasi terbentuknya FPRN.

Melalui FPRN, kata dia, sebagai pemegang kebijakan atas kelayakan sebuah berita disuguhkan ke publik, maka pemimpin redaksi sangat penting untuk berkumpul bersama guna saling menguatkan.

“Saya kira kehadiran FPRN ini sangat penting, agar sesama pemimpin redaksi di nusantara ini dapat saling menguatkan. Dan yang paling terpenting lagi, bersama-sama memerangi hoax,” katanya.

Menurut dia, FPRN bisa menjadi mitra bagi lembaga yang dipimpinnya itu, dalam rangka melakukan edukasi ke masyarakat melalui pemberitaan terkait adat dan budaya Bangsa Indonesia, yang saat ini mulai terkikis.
Komisioner Kompolnas, Dede Farhan Aulawi juga mengapresiasi terbentuknya wadah khusus bagi para pimpinan redaksi tersebut. Sebab, sebagai penentu layaknya sebuah berita disampaikan ke publik, pimpinan redaksi diharapkan dapat meminimalisir produksi hoax yang saat ini kian ramai disuguhkan publik.

“Tentu kita berharap, pimpinan redaksi yang tergabung dalam FPRN ini dapat menyaring, setiap berita yang akan disampaikan ke publik harus dipastikan bukan hoax. Makanya harus cek dan ricek, dalam waktu yang cepat, agar beritanya tidak basi,” ujarnya.

Dia juga menambahkan, selain memiliki keterampilan teknis, seorang pimpinan redaksi juga harus memiliki sentuhan seni. Olehnya itu, lanjut Dede Farhan, harus dilakukan validasi terkait kebenaran informasi yang akan dituangkan melalui materi pemberitaan.

“Sekali lagi saya sampaikan, penting untuk dilakukan validasi terlebih dahulu terkait kebenaran berita yang akan dipublish,” Pungkasnya.

Sumber : Riliis FPRN

AKHIRI DERITA ASAP!

Dutasumsel.com.INDRALAYA,-- Rumah(ku) bau asap! Kabut asap kembali menjadi ancaman bahkan bencana nasional di Indonesia tahun ini. Betapa tidak dari bulai Mei sampai September titik api atau hotspot terutama di pulaua Sumatera dan Kalimantan bukannya berkurang malah semakin bertambah banyak, tak terkecuali di wilayah Sumatera Selatan. Mungkin sudah banyak usaha dan cara yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi bencana tahunan ini, mulai dari sosialisasi melalui spanduk, pertemuan atau pelatihan tanggap darurat bencana, bahkan meminta langsung “hujan” dengan Sang Khaliq Allah SWT. Akan tetapi karena perilaku segelintir oknum yang kurang kesadaran dan tanggung jawab, maka kabut asap sampai saat ini masih menyelimuti bahkan semakin menjadi-jadi dalam rumah pun bau asap. Tulisan ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap dampak yang ditimbulkan akibat kabut asap yang semakin hari kian pekat, menambah sesak pernafasan, mengganggu aktivitas pendidikan, dan lain sebagainya. Seolah ini menjadi bencana nasional tahunan yang tidak pernah absen dari bumi pertiwi. 
Bencana merupakan rangkaian  peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan olehfaktor alam, non alam, dan manusia mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta dampak psikologis bagi masyarakat. Bencana kabut asap di Indonesia terjadi karena kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran tersebut disebabkan ulah tangan manusia juga faktor alam, seperti kekeringan akibat kemarau panjang. Namun, akhir-akhir ini bencana kebakaran hutan atau lahan disinyalir banyak diakibatkan pembukaan hutan atau lahan secara serakah untuk kepentingan industri, pertambangan, perkebunan, dan pertanian, baik perusahaan lokal maupun luar dan oknum warga yang tidak bertanggung jawab.

Peringatan Allah SWT
Allah SWT dalam Q.S. Ar-Rum ayat (41) telah memperingatkan kita semua bahwa “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. Ayat tersebut menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi ini tidak lain disebabkan ulah manusia itu sendiri yang melakukan perbuatan di luar syariat atau ketentuan Allah SWT. Begitupun dalam Q.S. Al-A’raf ayat (56-58) yang artinya “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”. Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa alam ini harus dirawat dengan baik untuk kemaslahatan semua, sebab tanpa rahmat dan kasih sayang-Nya melalui angin dan hujan yang diturunkan untuk menumbuhkan tanaman, maka tidak akan ada kemakmuran di muka bumi ini. Oleh karenanya, sebagai manusia biasa sepatutnya kita harus banyak bersyukur bukan malah kufur terhadap nikmat-Nya dengan mengharap dan berdo’a turunnya hujan.
Mengakhiri Derita Kabut Asap
Persebaran titik api atau hotspot bahkan kebakaran semakin meluas terjadi di provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan tersebut sangatlah merugikan manusia juga alam dan lingkungan sekitarnya, terlebih aktivitas pembelajaran di sekolah sangat terganggu akibat pekatnya kabut asap. Sehingga dampak yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan atau lahan dapat berupa (1) menurunnya populasi flora dan fauna yang ikut terbakar dan kehilangan tempat tinggal saat terjadi kebakaran hutan atau lahan; (2) mengakibatkan polusi udara buruk karena asap yang ditimbulkan sangat merugikan kesehatan manusia; (3) menjadi sumber penyakit akut, seperti paru-paru, infeksi saluran pernafasan, bahkan batuk pilek dan muntaber; dan (4) mengakibatkan terjadinya kecelakaan ketika sedang berkendara di jalan raya dan sebagainya.
Beberapa cara atau kegiatan yang dapat dilakukan pemerintah dan warga masyarakat untuk mengendalikan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan atau lahan tersebut adalah membuat peta kerawanan kebakaran, memantau cuaca/iklim, akumulasi bahan bakar, gejala rawan kebakaran, menyiapkan regu pemadam, membangun menara pengawas, penyiapan peralatan pemadam, membuat sekat bakar, membentuk organisasi penanggulangan kebakaran hutan atau lahan, menciptakan teknologi modifikasi cuaca, serta melakukan water bombinguntuk menurunkan jumlah hotspot. Diharapkan warga sekitar dan masyarakat umum memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap perilakunya untuk tidak membakar hutan atau lahan kapanpun dan dimanapun. Selain itu, dapat menjaga dan mengontrol diri untuk tidak melakukan perbuatan mengakibatkan kebakaran hutan atau lahan. Sehingga kebakaran hutan atau lahan itu dapat dihindari dan tidak menjadi hal “biasa terjadi” dan berulang tahun di Indonesia terutama saat musim kemarau tiba. Juga menindak tegas pelaku pembakaran untuk menjaga kelangsungan dan kelestarian hutan Indonesia.
Pencemaran lingkungan dan polusi udara akibat kebakaran hutan atau lahan sebagai bagian penyebaran kabut asap ini sangatlah mengganggu aktivitas dan kesehatan kita semua. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat dampak buruk yang ditimbulkan oleh kabut asap pekat disekitar kita, maka sebaiknya jaga kesehatan diri dan keluarga dengan cara berikut ini.
1)   Kurangi beraktifitas di luar ruangan. Mengurangi aktifitas di luar ruangan agar terhindar dari dampak buruk polusi udara, seperti terganggunya sistem pernapasan, sistem penglihatan (mata perih, gatal, dan gangguan lainnya), mengakibatkan batuk pilek, mengganggu kerja paru-paru, melemahkan otot tubuh (pingsan akibat asap), dan infeksi saluran pernapasan yang akut (ISPA).
2)   Pakailah masker atau kain penutup. Apabila kita beraktivitas di luar ruangan, apalagi sebagai pendidik dan peserta didik yang harus pergi ke sekolah atau kampus, sebaiknya gunakan masker atau kain penutup, setidaknya untuk meminimalkan paru-paru terhadap isapan asap berlebihan.
3)   Banyak minum air putih. Hal ini sangat dianjurkan agar kita minum air putih dapat membantu seseorang yang memiliki penyakit dalam, seperti paru-paru dan jantung untuk terhindar dari terkena penyakit ISPA. Agar peredaran darah lancar ke semua organ dan tidak cepat lemas.
4)   Jangan lupa menutup tempat penampungan air bersih untuk konsumsi sehari-hari agar tetap steril dan terhindar dari penyebaran jentik nyamuk yang berbahaya juga terhadap kesehatan kita.
5)   Berhentilah merokok. Ayo stop merokok agar udara di sekitar bersih dan tidak menyebabkan penyakit paru-paru, batuk pilek, dan ISPA. Jika perlu perbanyaklah mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin C untuk meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh.
6)   Membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan seimbang, beristirahat cukup, membiasakan cuci tangan sebelum dan setelah makan.
7)   Menutup jendela dan pintu dengan rapat. Menutup pintu rumah, kantor, dan mobil haruslah rapat barulah menghidupkan Air Conditioner diubah ke moderecirculate atau gunakan air purifier.
8)   Meminta turun hujan melalui Sholat Istisqo’ dan menciptakan hujan buatan.Mengundang hujan turun dengan sholat berjamaah dan berdo’a agar hujan segera turun amatlah dianjurkan bagi warga muslim. Bisa juga dengan menyemai garam untuk membuat hujan buatan sebagai usaha menciptakan dan mempercepat terjadinya hujan dan mempengaruhi proses terjadinya awan.
Kita berupaya untuk mengakhiri derita polusi udara akibat kebakaran dan kabut asap. Semoga bencana dan derita kabut asap ini segera berakhir dan tidak menimbulkan korban! Takutlah pada Allah dan bijaklah dalam berperilaku agar lingkungan sekitar tetap terjaga sampai ke anak cucu.

Penulis Artikel adalah: Husnil Kirom, M.Pd.
Guru SMP Negeri 1 Indralaya Utara
Redaksi.www.dutasumsel.com